Nama : Rosita
NRP : A4100152
Laskar: 30

Semua Terjadi karena Suatu Alasan

Cerita berikut ini sangat memberi inspirasi bagiku, sengaja aku kutip dari cerita Frank Slazak, seorang guru di Amerika. Cerita ini selalu mengingatkanku bahwa apapun yang aku alami, itu semua kehendak Allah. Baik atau buruk, asal kita bisa menerima dengan ikhlas, pasti semuanya demi kebaikan kita.
Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.
Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan
surat lamaran ke Washington . Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.
Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center .
Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?. Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku.
Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan?. Kenapa bukan
aku?. Bagian diriku yang mana yang kurang?. Mengapa aku diperlakukan kejam?. Aku berpaling pada ayahku. Katanya,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku…?
Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara :

1. Apabila Tuhan mengatakan YA Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta
2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik
3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU Maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak NYA

Nama : Rosita
NRP : A4100152
Laskar: 30

Cerita inspirasi ini terjadi ketika aku menginjak sekolah menengah atas. Mungkin ini biasa bagi kebanyakan orang tapi ini awal aku membentuk jati diriku.
Ketika kelas X aku selalu mendapat peringkat 10 besar dikelas. Akan tetapi ketika naik ke kelas XI, prestasiku menurun. Aku tahu itu semua terjadi karena satu penyebab, dan pada akhirnya penyebab itu membuat aku benar-benar drop. Semuanya tampak kacau, aku telah berubah. Aku semakin mengucilkan diri dari sekolah dan teman-teman. Aku merasa “Ya Allah, Engkau tidak adil. Mengapa aku selalu menangis. Engkau tahu aku melankolis. Sejak kecil batinku selalu tersiksa.”
Sejak saat itu dalam hati ku timbul kebencian yamg sangat mendalam karena penyebab itu. Aku bertekad akan menjadi orang yang sukses kelak. Aku bertekad dua hal, pertama aku mampu berprestasi disekolah, kedua aku akan melanjutkan sekolah ku ke perguruan tinggi dengan bebas biaya.
Aku melihat ada perubahan kearah positif didalam diriku. Sekolah yang tinggi akan imtaq kini aku jalani dengan setulus hati. Aku hanya ingin dekat dengan Allah. Aku selalu meningkatkan beribadah, berbuat baik, walau aku tahu peringkat ku dikelas masih turun dan tak ada peningkatan.
Ketika kelas XI semester II ada lomba olimpiade tingkat kabupaten, aku berjanji dalam hati “Aku pasti bisa lolos ke tingkat provinsi.” Semenjak itu aku belajar dengan giat. Aku merubah jurusan olimpiadeku, awalnya Matematika, lalu berubah ke Komputer. Aku sedikit takut karena teman sainganku belajar satu periode terlebih dahulu dari pada aku ketika kami kelas X. Tapi aku terus berkeyakinan aku bisa. Hal ini juga yang ingin aku buktikan kepada penyebab itu.
Aku belajar sendiri dengan penuh konsentrasi. Aku mengumpulkan soal-soal dan buku-buku. Tak lupa aku selalu bersujud kepada Allah, menjalankan semua perintahNya.
Saat oliumpiade tiba, aku mengerjakan dengan penuh ketenangan. Akan tetapi setelah selesai temanku lebih yakin dari pada aku. Mereka mengisi lebih banyak dari pada aku. Aku pasrah, aku terus mendekatkan diri kepada Allah. Ketika pengumuman tiba, aku terkejut aku mendapat peringkat 2. Aku lebih bersyukur kepada Allah dengan jalanku. Terima kasih Ya Allah, aku bisa membuktikan kepada semua orang dan lebih dengan penyebab itu.
Tak hanya itu, aku melihat perubahan positifku terjadi. Aku bisa merasakn arti kebersamaan bersama sahabat. Sebelumnya aku adalah wanita pendiam, tapi sekarang aku adalah wanita periang. Bahkan, teman-temanku selalu berkata “Ocit sudah berubah 180 derajat”. Aku merasa ingin menghabiskan waktuku bersama sahabat. Mereka segalanya untukku, mereka yang bisa membuatku tersenyum, melupakan semua masalahku.
Ketika kelas XII aku bingung dengan cita-citaku. Akankah aku bisa mendapatkan cita-citaku (sekolah kedinasan)?. Tapi ternyata cita-citaku terputus ketika aku tahu aku lulus BUD IPB. Aku bingung untuk aku putuskan cita-citaku atau meneruskan cita-citaku. Akhirnya aku memilih untuk memutuskan cita-cita awalku. Aku percaya Tuhan. Ini jalanku, dan kini aku punya cita-cita setelah selesai dari IPB kelak yang telah aku catat dalam hidupku.
Semua ini termotifasi dari sebuah kalimat dalam buku yang persis terjadi pada diriku. Aku selalu ingat dan berdo’a “Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cinta, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai.” Sekarang aku meraskan hikmah dari penyebab itu. Dengan tekad yang kuat dan keberadaan Tuhan didalam hati Allah akan memberikan kemudahan dalam segala urusan.

Search
Archives